Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Cinta Romantis Terbaru Melancoffe (Sera)

Berikut cerpen (cerita pendek) cinta romantis terbaru yang berjudul "Melancoffe"(Sera) spesial buat anda kaum muda pengunjung setia blog ekosela.com

Cerpen cinta romantis


Malam ini terasa dingin. Aku duduk di kasur sambil menutupi tubuhku dengan selimut yang tebal. Suhu malam ini mencapai 15°. Suasana seperti ini sangat cocok menikmati segelas cokelat panas. 

Aku melangkahkan kaki ke dapur. Mencari cokelat untuk ku seduh. Tak ku temukan satupun. Hanya ada kopi. Ku raih kopi itu ku pandangi dengan lekat. Aku seperti kembali ke masa lalu.

***

Aku suka hal yang berbau petualangan dan alam. Hal itu menjadi alasan pertamaku memilih pramuka sebagai ekstrakurikulerku. Sebenarnya aku bisa masuk ke klub pecinta alam. Tapi alasan keduaku adalah karna dirinya.

"Alif!" Suara itu mengagetkanku

"Iya, Ser?"

"Dicariin Kak Pandu."

"Dimana emang?"

"Sanggar Pramuka. Gue duluan ya." Sera berlalu meninggalkan senyuman.

Sera Adelia siswa pindahan kelas 11 IPS-3. Pertama bertemu Sera saat iya mendaftar menjadi anggota pramuka. Aku salah satu panitia penerimaan anggota baru. Dia bertanya padaku mengenai kegiatan pramuka di sekolah. Awalnya aku tidak begitu tertarik dengannya. Karna dia bukan tipeku

Semua berawal dari isenganku dengan Dandi. Dandi mengajakku taruhan yang menurutku itu konyol dan aku mau saja ikutan dengan kekonyolan Dandi. 

"Lif, lo kenal Sera?" Tanya Dandi menyikut tanganku dengan sikunya.

"Sera anggota baru?"

Dandi mengangguk "Gimana kalo diantara kita berdua bisa dapetin Sera, bakal traktik makan di Warung Semeru?"

Warung Semeru adalah tempat makan paling mahal. Untuk pesan satu porsi ayam penyet seharga uang jajanku selama 1 minggu. "Gile lu! Uang jajan seminggu gue itu"

"Biasanya lo paling jago mendapatkan hati wanita. Gina aja lo bisa dapetin kenapa Sera gak bisa?"

Entah kerasukan setan apa aku menerima tawaran Dandi "Oke deal"

Dua minggu sudah ku jalani pendekatan dengan Sera. Sifat yang aku suka darinya adalah perhatian. Setiap pagi dia membawakanku sarapan. Beragam macam menunya. Terkadang dia membawakanku kopi. Sebenarnya aku tidak terlalu suka mengkonsumsi kopi.

Kopi buatan Sera terasa beda. Aku jadi semakin candu. Setiap hari ku minta ia membawakanku kopi. Kami sering sarapan bersama di kantin sebelum masuk kelas. 

Dandi juga melakukan pendekatan dengan Sera. Setiap pagi di meja Sera sudah ada cokelat, puisi dan bunga. Dandi memang romantis. Puisi adalah senjata andalannya dalam memikat perempuan. 

Wajar saja, dia anak Bahasa dan jago dalam sastra. Kalau sedang membuat puisi seperti kesurupan arwah W.S Rendra. Dan jelas saja Sera begitu menyukainya. 

Sebelum Dandi mengungkapkan perasaannya, pagi ini ku putuskan untuk menyatakan perasaanku ke Sera. Saat aku dan dia sarapan pagi ku selesaikan urusanku dengan Dandi.

"Ser..." Panggilku

Matanya menatapku, aku memegang lembut tangan kirinya. "Gue mungkin gak seromantis mereka yang lagi mengejar lo. Tapi ini usaha gue buat dapetin hati lo. 

Gue cuma cowok sederhana yang berusaha buat dapetin hati lo..." Aku terdiam sejenak. Sera masih menungguku "lo mau gak jadi pacar gue?"

Sera meletakkan sendoknya. Dia tersenyum. "Gue gak tau harus bilang apa. Yang pasti tujuan lo dekatin gue udah kebaca. Gue udah tau." Aku terdiam lagi. "Lo dan Dendi jadiin gue bahan taruhankan?"

"....A..anu, Ser?" Aku gugup, tertegun dan malu

"Gak masalah, sih. Setelah ini jangan temui gue dan hubungi gue. Dan gue gak akan anggap kalian berdua siswa di sekolah ini."

Setelah kejadian itu, untuk bertemu dengan Sera aku merasa canggung. Jika bisa aku menghindarinya. Hampir setahun aku tak berani bertatap muka dengan Sera. Meskipun kami satu organisasi, aku berusaha menghindarinya. Ku rasa beban Dendi tak seberat bebanku.

Dia anak klub sastra. Peluang bertemu dengan Sera hanya 0.5% tapi tidak denganku.

Ku putuskan untuk menemui Sera dan meminta maaf. Rasa bersalah terus menghantuiku saat aku melihat Sera. Tak perlu ku ceritakan lebih jelas tentang permintaan maaf itu. Intinya dia memaafkanku. Entah mengapa aku merasa lebih lega. 

***

"Alif, nanti sama Sera ya?" Jelas Kak Pandu

"Sama Sera? Ngapain?" Aku kaget bukan main. Walaupun itu kejadian satu tahun yang lalu, aku masih canggung dekat dengannya. Dengar dia memanggil namaku saja jantungku mau copot.

"Nganter surat ke rumah Kak Doni"

"Sama yang lain aja, Kak. Alif gak bisa."

Kak Pandu bangkit dari kursinya "Sekalian pendekatan lagi sama Sera." Dia berlalu keluar ruangan sambil menepuk bahuku

Baiklah! Gosip itu sudah menyebar

Aku menunggu Sera di parkiran sekolah, seperti yang sudah kami janjikan. Sera selalu pulang bareng teman-temannya. Aku bertanya-tanya, mengapa perempuan pulang sekolah, ke kantin ke kamar mandi selalu bersama-sama? Kalo gak berdua ya bertiga. Jarang melihat mereka pulang sendirian atau makan sendirian. Sungguh perempuan ini meribetkan.

Sera melambaikan tangannya ke arahku. Meninggalkan tiga temannya. Dia berlari ke arahku. "Lama ya nunggu gue?" Tanya Sera

"Ah, engga. Gue baru nyampe tadi."

"Tadi nemenin Fira ke koperasi beli seragam olahraga." Tangannya Meraih helm yang ku gantung di motor

"Lo juga beli seragam olahraga?"

"Fira doang. Kami nemenin dia aja"

Tuhkan? Kenapa cewe suka begitu? Yang beli satu orang tapi yang nemenin banyak.

"Yaudah, yuk? Keburu sore. Entar kemaleman."

Deg-degan udah pasti, canggung apalagi. Aku tak pernah begini sebelumnya dengan perempuan. Sera itu beda dengan perempuan lainnya. Aku juga tak bisa menjelaskan di mana letak perbedaanya itu. Intinya dia itu beda. Dan aku jatuh cinta beneran saat dia memberikanku kopi untuk pertama kalinya. 

"Gak mau singgah?" Sera melepas helm dari kepalanya.

"Gak usah. Ga enak sama orangtua lo." Ku ambil helmnya. Ku gantung di tempat sebelumnya.

"Udah mau magrib. Singgah dulu buat sholat." 

"Yaudah, makasih ya"

Sera tersenyum jantungku tak beraturan getarannya.

Mataku mengitari seluruh ruangan. Terpajang foto keluarga di dinding. Sera adalah anak perempuan satu-satunya. Dia hanya dua bersaudara. Kakaknya sangat tinggi dan sudah sarjana. 

"Alif!" Panggilnya.

Aku menoleh

"Mau kopi?"

Kopi? Ya maulah

"Boleh"

Setelah aku telusuri, ternyata memang keluarga Sera pemilik kebun kopi dan punya coffe shop. Pantas saja Sera sangat jago meracik kopi. Sera muncul dari dapur sambil membawa segelas kopi.

"Diminum ya, Lif!" Sera meletakkan kopi di depanku.

"Makasih, Ser." Aku menyeruput sedikit kopi itu. "Orangtua lo kemana?"

"Perjalanan bisnis"

"Bisnis kopi?"

"Hahaha lo kepo banget ya, Lif" Sera tertawa "Keluarga gue punya coffe shop. Udah 3 sih cabangnya di Indonesia. Jakarta, Bandung dan Yogyakarta."

"Lo juga bisa buat kopi?"

"Emang sekarang yang lo minum buatan siapa?"

"Jujur aja, gue bukan penikmat kopi. Bahkan untuk pertama kalinya gue minum kopi buatan lo."

"Kalo kata ayahku, belajar dari kopi. Pahit dan manisnya kopi itu tergantung selera kita. Berapa gula yang kita inginkan? Tergantung kita suka rasa seperti apa."

Adzan berkumandang, sebelum kembali ke rumah aku sholat dahulu. Sera memberikanku sajadah dan sarung milik ayahnya. Segera aku pulang sebelum semakin larut.

***

Sebuah pesan masuk ke ponselku

Sera : Alif, kami mau ngecamp. Ikutan gak lo?

Kami? Siapa

Alif : siapa aja

Sera : Gue, Nadia, Deva, Arnold, Dera, Hana, Baron

Sera : Kalo lo mau ikut, besok siap siap ya?

***

Aku masih sibuk memasang tenda bersama Arnold dan Baron. Deva membantu Sera dan Hana menyalakan api untuk menghangatkan badan. Ini pertama kalinya aku ngecamp dengan orang yang baru aku kenal. Biasanya aku ngecamp dengan anggota pramuka saja.

"Udah sering ngecamp, bro?" Tanyaku membuka pembicaraan

"Gak terlalu sering sih." Jawab Arnold tangannya memukul pacak dengan batu.

"Kenal Sera darimana?" Aku gak tau kenapa bisa mengeluarkan pertanyaan ini.

Dia menoleh ke arahku lalu menghentikan kegiatannya memukul pacak. "Elo suka sama Sera?"

Aku terdiam

"Keliatan banget lo itu suka sama Sera." Arnold berdiri lalu mengambil botol minum dan meneguknya. "Lo liat disana!" Jari telunjuk Arnold menunjuk ke arah Deva. Cowok bertubuh jangkung, berkulit putih yang sedang bercengkrama dengan Sera. "Dia juga suka sama Sera" Arnold meletakkan kembali botol minum kembali ke tempatnya dan berlalu meninggalkanku.

Sedikit hilang semangat buat nyatain perasaanku hari ini. Aku berusaha mengenalinya. Ku pandangi dengan lekat wajahnya. Aku seperti pernah melihatnya. Ah dia Deva. Aku sejak tadi tak menyadari dia ada di sini. Dia ketua tim basket sekolah. Perempuan mana yang tidak suka pemain basket? Setiap hari rabu siang pinggir lapangan basket dipenuhi cewek-cewek centil teriak-teriak memanggil satu persatu nama pemain basket. 

Aku paling anti dengan cewek yang begituan. Untungnya Sera tidak ambil posisi di pinggir lapangan.

Sera menghampiriku sambil membawa termos mini berisi kopi.

"Alif!" Panggilnya

Aku menoleh

"Ngopi?"

Aku menggeser sedikit tempat dudukku sebagai tanda menyetujui keinginannya. Sera menuangkan Kopi dari termosnya ke cangkir lalu memberikannya padaku

"Kopi buatan lo?" Tanyaku sebelum menyeruput kopi di tanganku.

"Kalo bukan buatan gue kenapa?"

"Gue gak suka. Kopi buatan lo bikin candu"

Sama kaya rindu ku ke kamu Sera, Candu.

"Gue gak yakin kalo lo cuma minum kopi buatan gue"

"Serius, gue gak terlalu sering minum kopi. Kalo minum ya cuma ngehargai yang buat aja. Beda sama kopi lo, gue menikmatinya"

"Ini pujian atau cacian?"

"Terserah lo mau yang mana"

Aku menikmati kopi bersama Sera. Dibawah langit senja. Aku menginginkan hal seperti ini seterusnya. Meskipun tidak tau bagaimana kedepannya. Entahlah, rasa memiliki ini sungguh kuat. 

Bukan sebagai pacar tapi untuk ke yang lebih serius. Sebenarnya belum usiaku untuk berfikir begitu. Setelah bertemu Sera aku menjadi sedikit dewasa. Deva menghampiri kami. Membawa beberapa snack di tangannya. 

"Eh, Deva!" Sapa Sera

"Gabung boleh?" 

Aku menggeser badanku sedikit.

"Sihlakan. Lo bawa apa?" Tanya Sera

"Cemilan."

"Gue kira Cepuluh!"

Receh banget nih cewek

Hari sudah semakin gelap. Sepertinya adzan magrib juga sudah berkumandang. Aku masuk ke tenda untuk mengambil sarung dan sajadah. Menuju ke sumber air terdekat. Mengambil wudhu lalu menunaikan ibadah sholat magrib.

21.30 WIB

Malam ini bintang kembali menunjukkan dirinya. Ia tak bersembunyi seperti malam sebelumnya. Langit malam begitu bahagia seperti hatiku. Kami duduk mengitari api unggun. Aku duduk di samping Sera.

Aku juga tak begitu menginginkan posisi ini. Tapi Sera yang selalu ingin duduk di sebelahku. Bukan aku kepedean, tapi memang begitu. Saat di mobil dia ingin duduk di sampingku. Namun, Arnold melarangnya. 

Aku melihat gerak gerik Arnold yang terus memberi kode dengan Deva. Sangat ku pahami apa yang akan mereka rencanakan.

"Attention!!!" Teriak Arnold

Semua perhatian tertuju pada Arnold

"Mau ngapain lo?" Tanya Hana

"Bukan gue, tapi Deva!" Jawab Arnold

"Mau ngapain lo, Dev?" Tanya Dera

"Kepo lo ah." Ketus Baron

"Mungkin dia mau stand up comedy?" Celetuk Nadia.

"Berisik amat sih kalian?" Bentak Arnold

Semua terdiam

"Uhmm... Mungkin ini moment yang tepat buat gue nyampein sesuatu. Pertama gue ucapin makasih sama Arnold, sohib gue. Udah ngajakin ngecamp bareng kalian semua. Mungkin disini udah kenal gue. Tapi junkga mungkin ada yang belum kenal. Nama gue Deva Mahendra anak 11 IPA-5, gue ketua tim basket sekolah...."

"Pembukaannya panjang bener, langsung aja kenapa? Udah ngantuk gue" Dera menggerutu.

Deva semakin gugup "Seraaaa..."

Its time!

"Gue suka sama lo"

Pernyataan itu keluar langsung dari mulutku. Keluar begitu saja. Perhatian mereka tertuju padaku. Begitu juga Sera. Aku tertunduk. Aku sangat tau bagaimana eksperesi Deva dan Arnold. Mereka pasti sangat kesal padaku. Apalagi Arnold yang sudah tau aku menyukai Sera.

"Lif?" Sera memanggilku

Aku menoleh padanya. Wajahnya tampak tidak senang.

"Maaf, Sera. Maaf juga untuk semuanya." Aku terdiam sejenak.

"Maksud lo apa?" Tanya Arnold dengan nada meninggi.

"Sejak kapan lo suka sama Sera, Lif?" Tanya Hana. Cuma dia di sini yang tau tentang masalahku dan Sera.

"Sudah lama."

"Lif, gue udah pernah disakitin sama lo. Gue ga mau jatuh ke lubang yang sama. Lo jadiin gue bahan taruhan, apa gue semurah itu? Semenjak kejadian itu, gue benci banget sama lo. Bahkan buat liat muka lo gue ogah. Tapi..."

Hujan tiba-tiba turun. Langit yang berbintang tiba-tiba menghilang. Hatiku seperti kesambar petir. Aku tau ini salahku. Rasanya tak pantas untukku mengatakan suka pada Sera. Aku terlalu egois, aku tak ingin Sera dimiliki siapapun kecuali aku. Kami semua masuk ke tenda. Bagianku masuk ke tenda khusus cowok. Tatapan Arnold dan Deva begitu sinis. Baron merangkulku mencoba menguatkan hatiku.

Sepulang ngecamp, Sera enggan berbicara denganku. Tak peduli dia berpacaran dengan siapapun. Aku memang pantas dibenci.

***

Kopi yang ku temukan tadi langsung ku seduh dengan air hangat. Ku tambahkan sedikit gula lalu ku aduk perlahan. Ku seruput perlahan untuk mencicipi rasa. Pas! Seperti buatan Sera.

"Aku pulang!" Teriak seorang wanita yang masuk ke rumah.

Aku menghampirinya "Kenapa tidak minta di jemput?" Ku berikan segelas kopi yang baru ku seduh padanya untuk menghangatkannya.

"Gak mau ngerepotin suami"

"Gimana izin buka cabang coffe shopnya?"

"Alhamdulillah, Papa setuju" dia tersenyum padaku. 

Aku dan Sera menikah 6 bulan yang lalu. Takdir dan kopi menyatukan kami begitu saja. Iya Kopi. Dia menyatukanku dengan Sera. Aku menjadi penyuka kopi. 

Membuka bisnis pertanian sepertinya tak masalah. Aku membeli lahan kopi untuk ku kembangkan. Setelah bisnis berjalan setahun aku melanjutkan pendidikanku di bidang pertanian. Tanpa ku sadari, Sera salah satu konsumenku. Setiap bulan dia meminta kopi dari kebunku. 

Pertemuanku dengannya tanpa sengaja. Kebetulan saat itu aku sedang berkeliling kebun kopi dan Sera datang untuk mengambil kopinya. Ku mulai hubunganku dengannya secara baik. Dan sekarang dia menjadi istriku.

Posting Komentar untuk "Cerpen Cinta Romantis Terbaru Melancoffe (Sera) "